Pada zaman pemburu-pengumpul, manusia tidak menggunakan uang. Setiap kawanan berburu, mengumpulkan, dan membuat hampir semua yang mereka butuhkan. Beberapa anggota kawanan mungkin berspesialisasi dalam melakukan tugas tertentu, namun mereka berbagi barang dan jasa melalui sistem tolong-menolong dan utang budi. Sebagai contoh, sepotong daging yang diberikan secara cuma-cuma oleh anggota kawanan membawa timbal balik sebagai utang budi, misalnya, pertolongan pengobatan secara cuma-cuma. Istilah "utang budi" digunakan lebih dalam konteks hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan, tanpa ekspektasi langsung untuk pembalasan.
Ketika revolusi pertanian terjadi, tidak banyak yang berubah. Masyarakat masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Kemunculan kota-kota serta kerajaan-kerajaan membawa kesempatan baru bagi spesialisasi, baik di kota maupun di desa. Desa yang memiliki keunggulan dalam bidang tertentu dapat bertukar sesuatu dengan desa lain yang memiliki keahlian berbeda. Namun, muncul masalah baru: bagaimana mengelola tukar-menukar antarspesialis?
Sistem tolong-menolong dan utang budi tidak berlaku bagi orang asing yang belum tentu akan membalas budi. Kita bisa memanfaatkan barter, tetapi barter tidak efektif, terbatas, dan tidak bisa menjadi dasar ekonomi yang kompleks. Untuk memahami keterbatasan barter, mari simak artikel berikut.
Apa Itu Uang?
Uang bukanlah sekadar kepingan emas atau uang kertas. Uang adalah segala sesuatu yang dapat melambangkan nilai benda-benda lain untuk bertukar barang dan jasa. Ada banyak jenis uang, yang paling umum diketahui adalah uang logam dan uang kertas. Namun, uang sudah ada sebelum ditemukannya koin logam. Kebudayaan terdahulu telah menggunakan benda-benda lain sebagai uang, seperti cangkang bilalu, kulit, padi-padian, dan lain-lain. Cangkang bilalu telah digunakan di penjuru Afrika, Asia Selatan, Asia Timur, dan Oseania.
Uang adalah medium pertukaran universal yang nyaris dapat mengubah segala sesuatu menjadi segala sesuatu yang lain. Sebagai contoh, kesehatan bisa diubah menjadi pendidikan ketika seorang dokter menggunakan uang yang didapatnya dari melakukan operasi untuk membayar pendidikan anaknya.
Jenis-jenis uang ideal juga memungkinkan kita menyimpan kekayaan seefisien mungkin. Sebelum ditemukannya uang, seorang petani yang ingin menyimpan kekayaannya yang berupa padi dan hasil bertani lainnya perlu membuat lumbung dan harus menjaganya dari hama. Uang, entah itu kertas, koin logam, atau data komputer (saldo di rekening, misalnya), bisa menyelesaikan masalah itu. Uang dapat disimpan di mana pun dan kapan pun. Koin logam tidak dimakan tikus, uang kertas cukup kecil untuk disimpan di dalam brankas.
Tidak jarang juga seseorang perlu memindahkan kekayaan mereka ke tempat lain. Bayangkan, seorang petani hendak pindah ke desa lain yang jauh. Kekayaannya terdiri atas rumah dan sawah-sawahnya. Si petani tentunya tidak bisa membawa serta rumah ataupun sawahnya. Mungkin dia bisa menukar kekayaannya dengan berton-ton padi-padian, namun tentu akan merepotkan jika harus membawa semuanya. Uang bisa memecahkan masalah itu. Yang perlu dia lakukan hanya menukar kekayaannya dengan sejumlah uang dan membawanya ke mana pun dia pergi.
Cara Kerja Uang dan Sejarah Uang
Uang merupakan produk psikologis yang merupakan hasil imajinasi kolektif kita. Dengan kata lain, uang merupakan contoh dari realitas antar-subjektif dalam sejarah manusia. Nilai uang tidak berada di struktur intrinsiknya. Nilai uang kertas tidak berada di dalam zat, struktur, ataupun bentuk kertasnya. Namun, nilai uang ada di dalam imajinasi kita. Kepercayaan adalah pondasi yang digunakan untuk menciptakan uang. Dengan demikian, uang adalah sistem kesalingpercayaan paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan. Ketika seorang petani ingin pindah tempat tinggal dan menukarkan harta bendanya dengan uang, ia tahu dan percaya bahwa di tempat yang ia tuju akan ada orang yang mau menukarkan uang yang ia bawa dengan segala hal yang ia perlukan. Hal itu menjelaskan mengapa orang bekerja keras untuk selembar kertas berwarna yang bahkan tidak dapat dimakan.
Sistem sosial, ekonomi, dan politik yang terorganisir dalam jangka panjang menciptakan sistem kesalingpercayaan tersebut.. "Kesalingpercayaan" ini sebenarnya juga adalah hasil dari "kisah-kisah" atau "narasi" yang diciptakan masyarakat untuk mendukung sistem. Misalnya, pemerintah, bank, dll, adalah institusi yang menciptakan narasi yang meyakinkan masyarakat untuk percaya pada nilai uang.
Pada awal Ketika uang-uang baru pertama kali diciptakan, orang-orang belum memiliki kepercayaan seperti itu, oleh karena itu uang perlu memiliki nilai intrinsik nyata. Uang paling pertama yang dikenal dalam sejarah adalah uang jelai Sumer. Uang tersebut muncul pertama kali di Sumer sekitar 3000 SM. Lebih mudah membangun kepercayaan terhadap jelai sebagai uang pertama karena jelai memiliki nilai biologis bawaan. Manusia bisa memakannya.
Uang jelai dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam kegiatan-kegiatan ekonomi. Sejumlah jelai dalam takaran tertentu digunakan untuk tuker menukar segala jenis barang dan jasa. Takaran yang peling umum digunakan adalah sila, kira-kira sebanding dengan satu liter. Wadah-wadah yang menjadi standar takaran sila diproduksi secara massal sehingga bisa digunakan semua orang. Tidak hanya dalam jual beli, sila juga digunakan untuk membayar gaji-gaji orang di pemerintahan.
Meskipun jelai memiliki unsur intrinsik nyata, di sisi lain sulit menyimpan dan mengangkut jelai. Lonjakan besar dalam sejarah uang adalah Ketika manusia mulai memakai uang yang tidak memiliki nilai bawaan, namun lebih mudah disimpan dan dibawa. Uang tersebut adalah syikal perak yang ditemukan di Mesopotamia kuno pada pertengahan millennium ke-3 SM.
Syikal bukan uang logam, melainkan 8,33 gram perak. Tidak seperti jelai, syikal perak tidak punya nilai bawaan. Syikal tidak bisa dimakan dan diminum. Syikal juga terlalu lunak untuk membuat alat berguna seperti pedang, baju perang, dll karena terlalu lunak.
Ketetapan berat logam tertentu melahirkan uang logam. Uang logam
pertama dalam sejarah ditempa pada 640
SM oleh raja Alyattes di Lidia, Anatolia barat. Koin ini mengandung emas
atau perak dengan standar berat tertentu dan dicetak dengan tanda pengenal. Tanda
pengenal menyatakan 2 hal. Pertama, tanda itu menunjukkan seberapa banyak nilai
yang dikandung koin. Kedua, tanda itu menunjukkan pihak berwenang yang
menerbitkan suatu koin.
Koin memiliki dua keunggulan penting dibandingkan logam
sebelumnya. Pertama, logam harus ditimbang sebelum transaksi. Kedua, dengan menimbang
batangan perak saja tidak menjamin keasliannya. Bisa jadi Batangan perak yang
digunakan tidak benar-benar terbuat dari perak murni dan hanya dilapisi bagian
luarnya saja. Uang koin mengatasi masalah-masalah tersebut. Koin tidak perlu
ditimbang Ketika transaksi dan dengan adanya tanda pengenal pada koin, keaslian
koin sudah terjamin oleh pemegang otoritas yang menerbitkan koin tersebut. Sebagai
contoh, taruhlah suatu uang koin diterbitkan oleh raja dari suatu kerajaan. Ketika ada yang berani memalsukan koin
tersebut, itu sama saja dengan mencoreng otoritas dan hak khusus sang raja, dan
biasanya dihukum dengan kematian.
Sebaliknya, kebutuhan kerajaaan pun bersandar pada koin. Akan
mustahi menarik pajak berupa jelai dari dari desa-desa di penjuru kerajaan dan
mengangkutnya kembali ke pusat gudang harta kerajaan.
Para saudagar dan penakluk Muslim dan Eropa berangsur-angsur menyebarkan sistem koin Lidia. Kemunculan sistem monterr lintas bangsa dan budaya ini memicu persatuan dunia terutama di Afro-Asia. Hingga khirnya seluruh dunia menerapkan sistem moneter yang sama yang berada di satu lingkup ekonomi. Orang-orang berbicara dengan Bahasa yang berbeda-beda, mematuhi penguasa yang berbeda-beda, mempercayai tuhan yang berbeda-beda, namun semuanya mempercayai koin emas dan perak. Tanpa kepercayaann itu, mustahil membangun perdagangan global dan menggerakkan roda-roda ekonomi di dunia. Uang adalah satu-satunya sistem kesalingpercayaan ciptatan manusia yang nyaris menjebatani hampir semua budaya tanpa membeda-bedakan agama, ras, usia dan gender. Berkat uang, bahkan orang yang tidak saling kenal dapat membangun kepercayaan dan kerja sama yang efektif.
Artikel ini ditulis dan dirangkum dari buku "Sapiens" karya Yuval Noah Harari berdasarkan pemahaman penulis. Feel free untuk mengoreksi jika ada kesalahan dan berkomentar.
.jpg)




0 Komentar