Tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan makanan tradisional khas Indonesia yang bernama rawon. Makanan yang berasal dari Jawa Timur ini begitu populer sehingga dapat ditemukan di mana saja. Bahkan, produk mi instan terkenal bermerek Indomie membuat varian khusus yang terinspirasi dari makanan tradisional tersebut. Namun, tahukah kamu bahwa bahan utama paling penting yang memberikan rasa gurih dan aroma khas ini, ternyata beracun?

            Nama bahan utama tersebut adalah keluak. Keluak, atau dikenal juga sebagai kluwek atau kepayang, merupakan biji dari pohon keluwak (Pangium edule)  Keluak dimanfaatkan dengan diambil bijinya yang berwarna hitam. Biji yang berwarna hitam dimanfaatkan sebagai bumbu dapur setelah melalui proses pengolahan yang panjang. Namun, menariknya, biji dari tanaman ini ternyata beracun. Biji ini memiliki salut (aril) yang tinggi dan kandungan glikosida sianogenik atau asam sianida, yang mana, apabila dikondumsi tanpa pengolahan yang tepat, dapat menyebabkan keracunan, memabukkan bahkan mematikan. Selain glikosida sianogenik, terdapat juga zat lain yang terkandung didalamnya seperti asam hidrokarpat, asam khaulmograt, asam glorat, dan tanin.



Uniknya, racun pada biji keluak ini dulu digunakan sebagai racun tuntuk anak panah. Namun, untuk menjadikannya aman dikondumsi, biji ini harus melewati proses khusus. Proses ini meliputi  pencucian biji hingga bersih, perebusan dalam air mendidih, dan  perendalam di dalam aliran sungai selama beberapa malam. Cara tersebut berfungsi untuk mengurangi kandungan racunnya karena senyawa nya larut dalam air dan dalam kondisi panas. Setelah didinginkan, biji yang masih ada di dalam tempurung dipendam dalam abu selama 40 hari (dapat bervariasi tergantung tradisi lokal).

Fakta unik lainnya perihal makanan ini, makanan rawon tercantum dalam prasasti Taji yang berasal pada tahun 902 Masehi pada jaman Kerajaan Mataram Kuno. Jadi, selain kaya rasa, rawon juga menyimpan sejarah dan keunikan tersendiri.